Senin, 05 Oktober 2009

TARBIYAH MEMBENTUK SYAKHSIYYAH ISLAMIYYAH

Sering saya mendapat curhat tentang kondisi umat Islam. Umat Islam digambarkan tidak lagi padu atau saling berhadapan satu sama lain. Bahkan, menurut orang yang curhat, ada kelompok yang agendanya adalah
mencaci-maki, dan mengobok-obok gerakan dakwah lain yang menunjukkan hasil yang baik.

Perilaku semacam ini tentunya bertolak belakang dengan apa yang digambarkan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya, ''Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling
menguatkan.'' (Al-Bukhari dan Muslim) ‘Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh
tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.'' (Muslim)


Dari kedua hadits itu kita dapat melihat sekurang-kurangnya empat karakteristik ideal umat Islam. Pertama, umat Islam bagaikan bangunan yang utuh dan kokoh atau bagaikan tubuh manusia. Setiap potensi semakin menambah kuatnya bangunan atau tubuh itu. Kedua, setiap komponen saling memelihara kebaikan –fisik atau non fisik seperti budaya malu- yang dimilikinya dan membuang hal yang merugikan. Ketiga, dari bagian tubuh umat Islam ada yang selalu mencari solusi bagi problem yang dihadapi masyarakat, bukannya menambah persoalan. Keempat, satu sama lain saling menjaga, memelihara, dan mendukung, sehingga tercipta soliditas sosial.

Mencita-citakan hal itu sah dan realistis saja. Kondisi itu pernah tercapai dengan sangat gemilang. Tapi, itu semua tetap akan menjadi mimpi jika kita hanya berbicara tentang persatuan dan kesatuan tanpa ‘melahirkan’ orang yang layak mengisi kesatuan dan persatuan itu. Mereka adalah orang yang memiliki syakhsiyyah islamiyyah alias kepribadian Islam.

Hasan Al-Banna, Ulama dari Mesir, menggambarkan sosok syakhsiyyah islamiyyah itu –atas dasar pemahaman dan kajiannya terhadap Quran dan Sunnah- sebagai orang yang memiliki karakteristik berikut:

1. Salimul-‘aqidah (aqidah yang bersih)

Aqidah Islamiyyah yakni tauhidullah (pengesaan Allah) adalah fondasi keyakinan dan perbuatan. Dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu berangkat dari aqidah ini. Aqidah yang benar akan melahirkan
muraqabatullah yaitu kesadaran bahwa diri dipantau oleh Allah swt. Kesadaran ini membuat seseorang menjadi orang jujur tanpa perlu pengawas. Dia tidak akan merasa rugi menegakkan keadilan sendirian. Juga melahirkan jiwa yang terbebas dari kultus individu, rasa takut kepada selain Allah dan penghambaan kepada manusia.

2. Shahihul-‘ibadah (ibadah yang benar).

Bukti paling penting dari akidah adalah ibadah yang benar sesuai dengan Quran dan Sunnah. Allah swt. Berfirman, ''Dialah yang telah menjadikan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya.''
Rasulullah saw. menjelaskan betapa pentingnya ibadah yang benar dengan hadits qudsinya, ''Sesungguhnya Allah Ta’ala mentakan, ‘Siapa yang memusuhi waliku maka sungguh aku mengumumkan perang kepadanya. Dan
tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain dari apa yang Kuwajibkan padanya. Dan seorang hamba terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah nawafil
hingga Aku mencintainya.'' (Al-Bukhari)

3. Matinul-khuluq (akhlak yang kokoh)

Akhlak terpuji adalah pantulan lain dari aqidah yang baik. Karenanya Rasulullah saw. mengaitkan akhlak dengan aqidah atau keimanan. Misalnya saja Rasulullah saw. bersabda, ''Siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka hendaklah ia menghormati tetangganya.''

Islam menghendaki seorang Muslim menjadi penyebar rahmat dan kebaikan Allah. Kebaikan itu hanya akan dirasakan bila dibawa oleh orang yang berakhlak mulia. Oleh karena itu Rasulullah saw. bersabda, ''Menjalar di
tengah-tengah kalian penyakit umat terdahulu : iri dengki dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur kalian. Maksudku bukan mencukur rambut akan tetapi mencukur agama. Demi Dzat yang diriku ada di
tangan-Nya, tidaklah kalian akan masuk sorga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai.'' (At-Tirmidzi).

4. Mutsaqqaful-fikri (pemikiran yang terasah)

Akhlak yang baik lebih indah bila disertai dengan intelektualitas tinggi dan pemikiran cerdas. Akhlak yang baik membuat orang jujur dan pemikiran yang cerdas membuat orang lain tidak mudah tertipu.

Allah swt. dalam banyak ayatnya memerintahkan agar selalu melakukan proses berfikir tentang alam semesta. Firman-Nya,'' (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ''Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.''
(QS. 3:191)

5. Qawiyyul-jismi (tubuh yang kuat).

Rasulullah saw. bersabda, ''Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah sukai dari pada mukmin yang lemah.'' Allah memerintahkan kita menjauhi hal yang merusak tubuh. Firman-Nya, ''Hai anak Adam, pakailah
pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.'' (QS. 7:31). Rasulullah saw juga
melarang kita melakukan hal yang mendatangkan penyakit. Sabdanya, ''Hindarilah tiga hal buruk, buang hajat di sumber-sumber air, di jalan, dan di tempat teduh.'' (Al-Bukhari dan Muslim)

6.Qadirun ‘alal-kasbi (mampu berusaha mencari rezeki)

Muslim yang mampu membangun umat adalah yang memiliki daya saing tinggi, bukan menjadi beban. Ia mampu mencari rezeki yang halal. Islam menghargai orang yang bersungguh-sungguh mencari rezeki bagi diri dan
keluarga, dan yang berinfaq di jalan Allah. ''Tidaklah seseorang memakan sesuatu yang lebih baik dari pada hasil kerjanya sendiri.'' (Al-Bukhari) dalam hadits lain Rasulullah saw. menggambarkan, ''Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman lalu (tanaman itu) sebagiannya dimakan manusia, atau binatang, atau apa pun, melainkan baginya menjadi shadaqah.'' (Muslim).

7. Mujahidun linafsihi (mengendalikan hawa nafsunya)

Imam Ibnul-Qayyim menyebutkan, salah satu kendaraan syetan untuk mengendalikan manusia adalah hawa nafsu. Bila manusia tidak mengendalikannya, maka syetan yang akan mengendalikannya. Rasulullah saw. mengingatkan kita dengan sabdanya, ''Tidaklah seseorang beriman kepadaku hingga hawa nafsunya menjadi pengikut terhadap apa yang kubawa.''

8. Munzhzhamun fi syuunih (tertata rapi segala urusannya).

Hal yang sangat diperhatikan Islam –namun sering dilupakan- adalah ketertiban, keteraturan dan kerapihan. ''Allah itu Indah dan mencintai keindahan,'' kata Rasulullah saw. Menata dan mengatur memerlukan ketekunan dan waktu. Namun, bila dilakukan dapat menghemat waktu lebih banyak. Bayangkan, betapa pusing dan menghabiskan waktu mencari peralatan yang diletakkan sembarangan. Keteraturan yang lebih besar adalah ketertataan dalam aktifitas. Sering kita merasa super sibuk karena penataan kerja yang buruk. Akhirnya kerja keras kita tidak optimal.

9. Harishun ‘ala waqtihi (menjaga waktunya).

Waktu, kata Ustadz Yusuf Qardhawi, begitu murah di kalangan kaum Muslimin. Padahal, menurut Hasan Al-Banna, waktu adalah kehidupan. Pantas saja jika tingkat produktifitas umat Islam menjadi rendah. Ironis, umat yang diturunkan surah Wal-‘Ashri, paling mudah membuang waktu. Ustadz Hasan Al-Banna mengingatkan, ‘Kewajiban lebih banyak di bandingkan waktu yang ada.''

10. Nafi’un lighairihi (bermanfaat bagi orang lain)

Terakhir, bukanlah Muslim yang baik jika ia hanya menikmati keindahan Islam sendirian. Rasulullah saw. bersabda, ''Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.'' Manfaat minimal adalah menahan diri dari menyakiti dan merugikan orang lain. Muslim sejati adalah orang yang menahan tangan dan lidahnya dari menyakiti Muslim lainnya.

Itulah pekerjaan pertama tarbiyah: membentuk syakhsiyyah islamiyyah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar