Rabu, 22 September 2010

AMANAH

Tatkala Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin memperoleh Fathu Makkah (kemenangan Makkah), beliau memanggil Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah (juru kunci Ka'bah di zaman Jahiliyah), lantas Rasulullah berkata, "Tunjukkan kepadaku kunci Ka'bah." Utsman pun bergegas membuka tangannya, dan bermaksud memberikan kunci itu kepada Nabi. Tapi, hampir
saja beliau menerima kunci tersebut, tiba-tiba Al-Abbas berdiri dan berkata, "Ya Nabi, demi Bapakku, Engkau dan Ibuku, berikan kunci itu kepadaku, supaya aku yang mengurus masalah pengairan dan kunci ka'bah itu sekaligus." Mendengar ucapan ini, Utsman menutup kembali tangannya (enggan memberikannya kepada Rasulullah SAW).


Kemudian Nabi bersabda, "Berikan kunci itu kepadaku wahai Utsman". Utsman lalu memberikan kunci itu kepada Nabi seraya berkomentar, "Ini dia amanah dari Allah." Nabi
berdiri dan membuka pintu Ka'bah, dilanjutkan kemudian dengan thawaf mengelilingi Ka'bah. Pada saat itu Jibril turun, memerintahkan kepada Nabi untuk mengembalikan kunci tersebut kepada Utsman. Nabi memanggil Utsman bin Thalhah dan memberikan kembali kunci Ka'bah kepadanya.

Demikian sebagaimana yang diriwayatkan ole Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Abbas (Tafsir Ibnu Katsir I/569).

Pada kesempatan lain Rasulullah bertanya kepada sahabatnya, Mu'adz bin Jabal r.a: "Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah dan Hak hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah ?" Mu'adz kemudian menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya". Rasulullah lalu bersabda: "Sesungguhnya hak Allah atas hambanya adalah menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Adapun hak hamba atas Allah adalah Ia tidak akan
menyiksa hamba yang tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya" (HR. Bukhori & Muslim)

Amanah secara umum berarti segala hak yang menjadi tanggung jawab seseorang, baik yang berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan sesama manusia. Hadits di atas menunjukkan bahwa segala hal yang menyangkut kewajiban seorang hamba merupakan hak Allah. Dan begitu pun sebaliknya. Oleh karena itu, hak Allah atas hambanya adalah disembah
--dengan serangkaian ibadah yang telah ditetapkan dalam syari'ah-- dan tidak tidak disekutukan dengan selain-Nya. Apabila ada seorang hamba yang tidak melaksanakan ibadah kepada Allah maka berarti ia telah melanggar hak Allah. Ia telah menyalahi amanah yang telah diberikan kepadanya. Beribadah kepada Allah dan menyempurnakannya dengan
memurnikan niat semata karena-Nya adalah bentuk pemenuhan amanah Allah.

Sebaliknya, jika manusia enggan beribadah kepada Allah maka berarti ia mengkhianati amanah Allah. Allah telah berpesan: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui." (QS an-Anfaal: 27). 
Semua yang telah Allah dan Rsul-Nya wasiatkan di dalam al-Qur'an dan Sunnah adalah amanah bagi manusia untuk menunaikannya.

Adapun amanah yang berhubungan dengan sesama manusia umumnya terkait dengan masalah mu'amalah. Rasulullah bersabda: "Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang apa yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Orang laki-laki adalah pemimpin di lingkungan keluarganya, dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Orang
perempuan juga pemimpin, (dalam mengendalikan rumah tangga suaminya), dan ia juga akan ditanya tentang apa yang ia pimpinnya. Pembantu rumah tangga juga pemimpin dalam mengawasi harta benda majikannya, dan dia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya." (HR Bukhari). Dari hadits ini jelas bahwa setiap orang memikul amanah yang sekecil apapun bentuk amanah itu harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat.

Pertanggungjawaban di dunia adalah dengan memenuhi amanah tadi kepada yang berhak, sementara di akhirat akan menghadapi hisab di hadapan Rabbil Izzati, yang manusia tidak bisa menipu-Nya.

Amanah meliputi segala hal; Harta, anak, Ilmu, jabatan dalam semua jenis tingkatannya, titipan barang atau pesan, kepercayaan, menjaga rahasia & aib teman maupun keluarga dan lain sebagainya. Sedangkan tidak menunaikan amanah berarti khianat. Dengan demikian semakin banyak rezeki yang Allah limpahkan kepada seorang hamba maka sesungguhnya bertambahlah beban amanah yang mesti ia pertanggungjawabkan dihadapan-Nya.

Sebagaimana semakin tinggi jabatan seseorang -baik dalam suatu organisasi sosial maupun dalam dunia kerja--, juga semakin besar amanah yang harus ia pikul. Memahami akan pertanggungjawaban amanah yang begitu besar, maka sungguh aneh jika ada orang yang senang dan bahkan 'gila' jabatan, mempertahankan mati-matian jabatannya dengan segala
cara. Semoga Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita semua untuk menunaikan segala amanah-Nya, amien. Wallohu a'lam.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar