Sabtu, 14 Januari 2017

Murobbi Goblog

Oleh : Cahyadi Takariawan

Maafkan saya jika judul di atas tampak terlalu kasar dan vulgar. Kalimat itu terinspirasi oleh sebuah diskusi dengan kader-kader dakwah dari Kulonprogo, yang menyatakan bahwa saat ini perangkat tarbiyah sudah sangat canggih, namun justru terkesan menyulitkan dan tidak praktis. Berbeda dengan zaman dulu saat para murabbi belum mengenal berbagai sistem dan perangkat dalam manhaj tarbiyah, justru sangat PD membina dan menghasilkan kader handal. Mengapa sekarang justru banyak yang tidak PD membina, padahal perangkat sudah sangat lengkap?
 
Pada era sebelum tahun 2000, apalagi sebelum tahun 1990, para murabbi dengan sangat percaya diri melakukan rekrutmen dan melakukan pembinaan dengan berbekal sedikit materi tarbiyah. Daurah Murabbi pada masa itu hanya berisi transfer materi alias talaqi madah. Tidak menggunakan banyak perangkat yang canggih, sejak dari perangkat lunak berupa manhaj maupun perangkat keras seperti teknologi. Semua serba sederhana, serba terbatas dari segi fasilitas, namun ternyata sangat optimal dari segi hasil.

Waktu itu kita duduk melingkar di masjid atau pesantren, atau duduk di ruang tamu seorang kader yang disulap menjadi tempat daurah. Lesehan, dengan tikar yang sudah lapuk dan bolong di sana sini. Para muwajih menyampaikan talaqi madah secara ringkas, dengan menggunakan sarana papan tulis serta kapur putih untuk catat mencatat. Kemudian kita makan dengan nasi bungkus yang sangat sederhana, atau makan bersama dalam satu wadah besar. Suasana kebersamaan sangat kuat, dengan semangat yang juga sangat kuat.

Sepulang dari daurah, semua peserta langsung menyampaikan madah yang didapatkan kepada para mutarabi di kelompok-kelompok binaan. Sepulang dari daurah kita merasa semangat dan bisa meneruskan kepada binaan, seperti yang kita dapatkan dari muwajih di daurah murabbi.

Kita sekarang belajar “teknologi tarbiyah”, sejak dari visi, misi, tujuan, metodologi, sarana, evaluasi, promosi tarbawi, penugasan dan lain sebagainya. Sangat sistematis, lengkap dan utuh menyeluruh. Bahkan mendapatkan materi tentang micro-teaching, retorika, public speaking, dinamika kelompok, teamwork, dan materi penunjang lainnya. Sepertinya sudah sangat komplit dan utuh, tidak ada yang tidak tersentuh dan tersampaikan.

Kita daurah di ruang nyaman ber-AC, duduk di kursi, tidak lagi lesehan. Kita menggunakan LCD, dan semua madah boleh dicopy di flasdisk atau bahkan dikirim melalui email ke setiap peserta. Kita makan dengan menu yang lebih layak, tidak lagi nasi bungkus. Para peserta dari jauh datang dengan sarana pesawat serta tidur di hotel. Mereka juga membawa laptop, serta smartphone untuk kemudahan komunikasi. Sudah sangat mendukung fasilitas yang kita dapatkan. Namun ‘tiba-tiba’ kita dikejutkan dengan keluhan kesulitan merekrut dan membina......

Adakah Pelajaran Tarbiyah dari si Bob?

Belum lama Indonesia kehilangan salah seorang pengusaha nyentrik namun sukses, Bob Sadino. Kita mengenal “ajaran” Bob Sadino adalah tentang filosofi ‘goblok’. Dalam buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”, Bob menyatakan bahwa orang sekolahan diajari tahu, sedangkan orang jalanan diajarkan bisa. Orang bisa, tentu berada beberapa langkah di depan orang yang hanya tahu. Lebih parah lagi, orang sekolahan biasanya hanya tahu dan belum tentu mengerti, sehingga dalam melangkah banyak ragu-ragu. Takut begini, takut begitu, karena terlalu banyak rambu.

Sementara itu, orang yang besar di jalanan hanya mengajarkan satu hal : lakukan saja! Tidak ada teori yang rumit dan pikiran yang negatif atau penuh kekhawatiran. Kata Bob, orang yang pintar di jalanan berani melawan ketakutan yang biasanya membisikan teror, “bagaimana nanti kalau gagal,” atau “jangan-jangan nanti bangkrut,” dan lain-lain. Orang jalanan menjadi pintar dan bisa karena melakukan atau menjalankan secara langsung. Mengalami benturan masalah, menghadapi problematika riil yang harus dicari jalan keluarnya secara praktis. Itu yang membuat mereka bisa.

Itu sebabnya Bob sering menyatakan, kalau anak kuliahan dengan IPK di atas 3, itu tanda calon karyawan, bukan calon bos. Teori perkuliahan saja tidak cukup membuat seseorang sukses dan menjadi bos. Diperlukan ilmu jalanan, praktek langsung, bergulat dengan medan kenyataan. Itu yang menempa seseorang menjadi bisa, dan pada akhirnya bisa sukses dalam usaha.

Ternyata Bob Sadino memang memulai bisnis dari jalanan, bukan dari sekolahan. Dia memulai dengan berjualan telur, daging ayam, sayur-mayur dan buah-buahan. Dia tidak menghadapi segala masalah dengan senjata teori, melainkan dengan praktek langsung. Bob juga mempunyai cara unik dalam melakukan pengawasan, yaitu dengan cara ikut bekerja bersama para karyawannya. Bahkan Bob betah seharian ikut melakukan pekerjaan karyawan.

Bob tidak segan bergaul dengan para karyawan mulai dari top level sampai pegawai paling rendah seperti tukang sapu atau office boy. Ia memosisikan diri seperti rekan kerja, teman, sahabat atau bahkan keluarga. Dengan cara seperti ini, semua karyawan menjadi nyaman dengan dirinya, dan pada saat yang sama ia bisa mengawasi serta mengontrol pekerjaan karyawan.

Bagaimana Menjadi Murabbi Goblok?

Sangat tidak tepat istilah ini, tidak perlu dikembangkan lagi. Intinya kita perlu menjadi murabbi yang berpikir simpel, langsung praktek, tidak takut gagal, tidak takut salah, belajar dari kesalahan membina, mau akrab menemani mutarabi, serta menyampaikan hal yang bisa disampaikan.

1. Berpikir simpel

Jangan terlalu rumit memandang proses tarbiyah. Merasa belum menguasai manhaj, merasa belum menguasai ilmu alat, merasa belum menguasai mawad tarbiyah, sehingga akhirnya tidak membina. Itu karena terlalu rumit cara memandang tarbiyah. Simpel saja, tarbiyah itu aktivitas bersama antara murabbi dengan mutarabbi untuk menghantarkan mereka menuju muwashafat tarbiyahnya.

Tanpa metode yang rumit, tanpa materi yang sulit, bahkan hanya dengan mengobrol santai saja, tarbiyah bisa berjalan. Lakukan saja, mulai saja, membina saja. Membina itu simpel kok...

2. Langsung praktek

Tidak perlu berkutat dengan banyaknya teori. “Saya belum mengerti bagaimana cara mengevaluasi mutarabi”, itu tidak masalah. Nanti saja dipelajari. Sekarang langsung praktek, langsung membina saja. Tidak perlu IP tinggi dalam tarbiyah, cukup kemauan belajar dan semangat melakukan pembinaan.

Jika menunggu sampai menguasai semua hal dalam “teori tarbiyah”, maka akan membuat tidak segera memulai praktek membina. Akhirnya hanya menjadi peserta daurah murabbi abadi, menguasai banyak teori, namun tidak mau praktek. Sudahlah, langsung praktek saja dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang pasti masih kita miliki.

3. Tidak takut gagal membina

Gagal membina itu wajar saja. Banyak murabbi pernah mengalami. Kita tidak perlu takut gagal, takut membubarkan kelompok binaan, takut gagal menjadikan mutarabi menjadi kader yang handal. Sudahlah, mulai saja, lakukan saja, tidak perlu takut gagal atau bubar di tengah jalan.

Ketakutan membina justru menjadi momok yang membuat tidak melakukan pembinaan. Padahal ketakutan itu justru akan terjawab dengan praktek melakukan pembinaan secara langsung. Kalau tidak praktek, bagaimana bisa mengetahui akan gagal atau berhasil?

4. Belajar dari kegagalan membina

Bahkan ketika kita gagal membina, atau binaan bubar di tengah jalan, itu bisa memberi pelajaran penting tentang faktor-faktor kegagalan dan keberhasilan tarbiyah. Bukan mendapatkan ilmu lewat teori kuliah, tetapi mendapatkan ilmu dari praktek langsung di lapangan. Gagal pun ada pelajaran yang penting bagi pembentukan karakter murabbi dan kemampuan membina.

Lakukan pembinaan, jika bubar, lakukan rekrutmen lagi, lalu dibina lagi dalam satu kelompok pembinaan. Jika kelompok kedua ini bubar lagi, rekrut kelompok berikutnya dan langsung dibina lagi, begitu seterusnya. Jangan takut gagal membina.

5. Tidak takut salah

Setelah mengerti sangat banyak hal renik dari “teori tarbiyah”, kadang memunculkan ketakutan jangan-jangan tidak bisa sesuai dengan teori. Jangan-jangan cara saya membina tidak standar sebagaimana tuntutan manhaj. Ketakutan itu justru memberatkan diri sendiri. Setelah mengikuti daurah murabbi yang menjelaskan “teori tarbiyah”, segera praktek dan menjalankan program pembinaan. Tidak perlu takut salah, takut tidak sesuai teori, dan seterusnya.

Tarbiyah itu proses, bukan sekali jadi. Maka yang penting mulai saja. Jika ada yang kurang dalam sentuhannya, bisa dipoles sembari proses berjalan.

6. Mau akrab menemani mutarabi

Mutarabi kita sekaligus bisa menjadi pengingat dan motivasi bagi kita. Lakukan pendekatan dari hati ke hati, mau duduk akrab dengan mereka, tidak berjarak, mengobrol, bercanda, dan lain sebagainya. Itu akan membuat kedekatan murabbi dengan mutarabbi semakin baik, dan akan membuat proses tarbiyah semakin efektif.

Berakrab dengan mutarabi juga sekaligus kontrol terhadap kondisi mereka. Murabbi bisa mengetahui situasi pemikiran dan jiwa mereka dalam berinteraksi dengan tarbiyah selama ini.

7. Sampaikan apa yang bisa disampaikan

Nanti sore jadwal mengisi halaqah tarbawiyah? Jangan stres. Sampaikan saja apa yang bisa anda sampaikan. Mungkin berupa kisah, cerita, atau mengulas berita, atau menyampaikan satu madah tarbiyah, atau memberikan tugas mutarabi untuk membaca buku tertentu dan menyampaikannya di forum, atau apa saja yang anda bisa. Jangan terbebani dengan pikiran “tidak punya sesuatu untuk disampaikan”.

Anda bisa menyampaikan apa saja, termasuk cerita kejadian yang anda alami bersama keluarga. Itu bisa memancing diskusi menarik untuk diambil pelajaran pentingnya.

Sudah siap? Harus siap. Semua harus membina, walau hanya satu kelompok binaan. Masih ada yang belum membina? Mungkin anda terlalu pandai.

Bagaimana ada komentar ?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar