Jumat, 30 Juli 2010

THALHAH BIN ‘UBAIDILLAH RAHIMAHULLAH

“Dan Thalhah akan berada di syurga” , kesaksian dari Nabi SAW

Thalhah bin Ubaidillah dididik langsung oleh Abu bakar as Shiddiq RA. Dia bersama Zubeir bin al ‘Awâm dan Utsman bin Affan, Sa’ad bin abi Waqqas dan Abdurrahman bin ‘Auf ridwânullah di tangan Abu bakar as Shiddiq. Ketika itu Thalhah adalah orang keempat setelah tiga orang yang masuk islam ditangan Abu Bakar.

Sebelum kita membahas jiwa kepahlawanan dari Thalhah bin ubaidilah ini, marilah kita simak kisah masuknya dia ke dalam agama islam. Thalhah RA berkata: “Ketika kami berada kami berada di alam pasar bashrâ ada seorang pendeta Nasrani berseru di antara manusia: “Wahai para pedagang! Tanyalah kepada kumpulan para pedagang, pembeli ini. apakah ada seseorang di antara mereka yang merupakan penduduk kota mekkah?”. Ketika itu aku berada di dekatnya. Dan aku menghampirinya. Lalu aku berkata: “ya aku adalah penduduk kota mekkah”.

Kemudian dia bertanya lagi: “Apakah di antara kalian ada yang bernama Ahmad?”. Aku berkata: “Ahmad yang mana yang engkau maksud?”. Ia berkata: “Anak dari Abdullah bin Abdul Mutthalib. Inilah tanda-tanda terkenal yang tampak padanya dan dialah Penutup nabi-nabi. Dia penduduk asli kota Mekkah, kemudian berhijrah menuju bumi yang sangat subur, bumi yang memiliki kebun-kebun anggur, dan danau-danau yang dipenuhi oleh air. Maka engkau harus mencarinya wahai anak muda!”. Kemudian Thalhah berkata: “Aku menyimpan kata-katanya di dalam hatiku”. Kemudian aku bergegas menuju onta dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Aku meninggalkan sekelompok orang yang datang bersamaku. Lalu aku melaju dengan penuh semangat menuju kota Mekkah. Ketika aku sampai, aku bertanya kepada keluargaku: “Apakah ada suatu peristiwa baru terjadi di Mekkah setelah kepergian kami?”.
Mereka berkata: “ya. Ada seseorang bernama Muhammad bin Abdullah mengaku sebagai seorang Nabi, dan anak Abi Qahafah –Abu Bakar- mengimaninya.

Thalhah berkata: “Aku mengenal Abu Bakar. Dia adalah seorang laki-laki yang pemurah, dicintai dan menjadi tempat berlindung bagi kaumnya yang membutuhkan. Dia adalah seorang pedagang yang memiliki akhlak dan kepribadian yang tegas. Kamipun sangat akrab dengannya. Kami senang duduk bersamanya dan membicarakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suku Quraisy. Dia sangat menjaga wibawa keturunannya”. Lalu aku mendatanginya. Dan aku berkata kapadanya: “Benarkah kabar tentang pengakuan Muhammad bin Abdullah sebagai nabi, dan benarkah engkau telah mengikutinya?”. Dia menjawab: “ya”.

Kemudian Abu Bakar menceritakan kembali peristiwa itu. aku langsung merasakan keinginan untuk bergabung bersamanya. Aku juga menceritakan apa yang telah disampaikan oleh seorang pendeta Nasrani tentang Muhammad. Abu Bakar sangat terkejut. Dan dia berkata: “Kalau begitu, mari kita datangi Muhammad dan kita sampaikan kepadanya apa yang baru saja engkau ceritakan, kemudian kita bisa mengetahui apa pendapatnya tentang hal itu dan agar engkau masuk ke dalam agama Allah”.
Thalhah berkata: “kemudian aku mendatangi Muhammad bersama Abu Bakar. Nabi SAW memperkenalkan aku kepada islam, dan membaca beberapa ayat al Qur`an kemudian memberiku kabar gembira tentang kebaikan dunia dan akhirat”.

Setelah itu, Allah melapangkan jalanku untuk memeluk islam. Dan aku ceritakan kepadanya tentang kabar gembira yang disampaikan oleh seorang pendeta Nasrani. Lalu aku melihat kegembiraan yang tampak pada rona wajahnya. Kemudian, dihadapannya, aku mengucapkan syahadat, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Aku adalah orang yang keempat dari tiga orang yang telah diislam kan oleh Abu Bakar.

Ketika keluarganya mengetahui bahwa thalhah telah menjadi muslim, mereka murka, dan kehilangan kendali atas diri mereka. Mereka menyiksanya dengan berbagai macam siksaan.
Mas’ud bin Kharras berkata: “Ketika aku sedang melaksanakan Sa’i antara shafa dan marwah, ada sekelompok orang yang mengiringi seorang pemuda yang diikat tangannya pada lehernya. Mereka berjalan dengan sangat cepat di belakang pemuda itu. Mereka mendorongnya, dan memukul kepalanya (dengan cemeti). Dibelakangnya juga ada seorang wanita tua yang mencaci makinya dengan suara lantang. Kemudian aku bertanya: “Apa yang telah dilakukan pemuda itu?”. Mereka menjawab: “dia adalah Thalhah bin Ubaidillah. Dia telah keluar dari agamanya dan mengikuti agama Bani Hasyim (Muhammad).
Kemudian aku bertanya lagi: “lalu siapa wanita tua yang berada di belakangnya?”. Mereka menjawab: “Dia adalah ‘Ashabah binti al hadhrami. Ibu dari pemuda itu”.

Kemudian Naufal bin Khuwailid yang dijuluki dengan Singa suku Quraisy, menghampirinya dan mengikatnya dengan sebuah tambang. Di dekatnya, abu Bakar juga diikat. Mereka kemudian diikat menjadi satu. Dan diserahkan kepada para pemimpin Kota Mekkah yang sangat kejam, agar mereka mendapat siksaan yang berat.

Kerena peristiwa itu, Abu Bakar dan Thalhah beri julukan Qarînain, yang berarti dua orang teman.
Hari demi hari berlalu. Malam demi malam berganti. Akan tetapi ksatria perkasa itu semakin bertambah iman, cahaya, rasa takwa dan kegembiraannya. Posisi dan kedudukannya di mata Rasululah SAW semakin bertambah, sehingga beliau menambahkan julukan-julukan mulia untuknya seperti: “Thalhah Syhahîd al hayy (sang Pemuda Syahid yang hidup), Thalhah al Khair (yang penuh kebaikan), Thalhah al Jûd (yang murah hati). Dan Thalhah al Fayyâdh (yang sangat berlimpah kebaikannya). Setiap julukan itu memiliki latar belakang cerita yang menggugah dan menyentuh kalbu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar