Kamis, 18 Maret 2010

Sebuah Kesaksian

oleh : ust. Hilmi Aminuddin

Sebagai shahibul dakwah, shahibul masyirah, teman perjalanan dalam dakwah dan perjuangan, saya memberikan kesaksian yang tulus, jujur, ikhlas pada Ustadz Rahmat Abdullah. Sepanjang 25 tahun dalam perjalanan dakwah, dalam tugas apapun, dalam fungsi apapun, dalam posisi apapun, akhuna rahimahumullah Rahmat Abdullah selalu mengambil posisi yang terbaik, selalu mengambil peran yang terbaik, selalu memberikan sumbangan yang terbaik.

Saya, 25 tahun yang lalu merasakan kehangatan tangan beliau ketika mengulurkan tangan untuk bersama-sama membangun dakwah ini, memuliakan dakwah ini. Beliau menyambut para pendiri jamaah dakwah ini untuk membangun anak tangga keberhasilan, bagi perjuangan membela umat ini. Walaupun, tangga-tangga yang beliau bangun itu, tidak sempat menitinya.

Peran dan posisi terbaik, selalu beliau tunjukkan. Saat menjadi sahabat beliau adalah khairul ashab (sebaik-baik sahabat), ketika menjadi suami beliau adalah khairul azwaj (sebaik-baik suami), ketika menjadi seorang bapak beliau adalah khairul aaba (sebaik-baik orang tua), ketika beliau menjadi seorang mutarabbi (murid) beliau adalah khairul mutarrabbin (sebaik-baik murid), dan ketika beliau menjadi murabbi (guru) beliau adalah khairul murabbin (sebaik-baik guru). Ketika menjadi jundi (prajurit) beliau adalah khairul junud (sebaik-baik prajurit), ketika menjadi qiyadah (pemimpin) beliau adalah khairul qiyadaat (sebaik-baik pemimpin).

Kenapa bisa demikian, karena modalnya hanya satu, ash-sidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam segala hal. Baik as shidqu ma’a robbihi (jujur kepada Allah swt) wa shidqu ma’a nafsihi (jujur kepada dirinya). Sehingga beliau dengan siapa pun tidak pernah memakai bahasa diplomasi, selalu tulus terbuka, ikhlas membuka diri. Kalau benar dia katakan benar, kalau tidak mampu dia katakan tidak mampu.

Dengan siapa pun ia selalu memakai bahasa hakikat. Oleh karena itu terpancar ash-shidq ini kepada segala aspek pergaulan, as shidqu ‘ala da’watihi wa sidhqu ‘ala jama’atihi. Seluruh perjalanan kehidupannya dihiasi dengan shidq. "Minal mu’minina rijalun shadaquu maa ‘aahadullaha ‘alaihi...."(QS. Al Ahzab:23)

Dan pada hari ini beliau dengan shidiq itu pula menghadap Robbul Alamin. Insya Allah sebentar lagi beliau akan menduduki posisi fi maq’adi shidqin ‘inda maliikin muqtadir. (QS. Al Qamar:55) yang akan mendapatkan posisi shidq yang mulia di sisi Allah swt.

Saat ini beliau telah kembali, setelah 3 tahun yang lalu mengantarkan murid beliau yang terbaik, Ust. Madani. Dan sekarang, beliau sendiri akan berkumpul dengan ashshabiqunal awwalun (para pendahulu) dari salafus shalih minal mujahidina wad du’aat insya Allah, dan sekali lagi insya Allah beliau akan menempati posisi yang mulia fi maq’adi shidqin ‘inda malikin muqtadir.

Pada kesempatan ini saya harus bersaksi wafaan lil baiah, wafaan lil ahd, wafaan lid dakwah sebagai bukti kesetiaan kita secara ukhuwah Islamiyah. Saya juga bersaksi bahwa beliau bukan saja orang terbaik di antara kita, tetapi beliau adalah orang yang paling kaya di antara kita, ghaniyyun bi rabbihi (kaya dengan Allah) yang menghujam sebagai akidah di lubuk hati nuraninya sehingga memancarkan kekayaan moral, kekayaan spiritual, kekayaan akhlak, kekayaan ibadah, kekayaan amanah, kekayaan istiqomah. Beliau adalah aghnan naas ‘indana (orang yang terkaya diantara kita) kalau dilihat dari kekayaan beliau adalah azhadun naas, paling jauh dari mengejar kekayaan dan jabatan.

Dalam bulan-bulan terakhir ini, beliau menyampaikan rintihannya kepada saya berkali-kali, namun saya belum sempat mengabulkannya. Beliau tidak ingin di DPR lagi dan ingin lebih mengabdikan dirinya di medan dakwah. Saya sangat menyesal belum sempat mengabulkannya. Itu permintaan beliau yang berkali-kali beliau ucapkan selama 5 tahun memimpin persidangan Majelis Syuro.

Saya juga selalu menjadi saksi bagaimana beliau memimpin dengan mahabbah, dengan penuh cinta. Tidak ada suara yang dipatahkan, sebagaimana tidak ada suara yang diagungkan, semuanya didekati dengan mahabbah fillah (cinta karena Allah). Sehingga 5 tahun mengantarkan majelis syuro PKS, mampu menghasilkan aneka ragam kebijakan yang lahir dari mahabbah wa rahmah yang tercurah dari lubuk hati beliau.
Oleh karena itu, sekali lagi warisan yang beliau tinggalkan sebagai orang yang paling kaya diantara kita adalah warisan yang sangat banyak; warisan mahabbah, warisan kasih sayang, warisan qudwah, warisan taat, warisan tajarrud (totalitas), warisan ukhuwah yang harus kita tumbuh kembangkan. Inilah warisan yang terbesar dari orang yang paling kaya di antara kita. Saya pun sejak tadi malam dan hari ini ketika 25 tahun ditakdirkan menyambut beliau bergabung dalam gerakan dakwah ini, hari ini pun ditakdirkan oleh Allah untuk mengantarkan beliau meninggalkan beban dakwah, tugas dakwah, tugas perjuangan yang besar ini. Mudah-mudahan kita, bisa istiqomah seperti yang beliau contohkan.

Beliau walaupun secara dakwah kelihatannya adalah murid saya, tapi sebenarnya dia juga guru saya. Dia ustadzi fi qudwatihi, ustadzi fi shabrihi, ustadzi fi mahabbatihi (Dia mengajari saya dengan keteladanan, dengan kesabaran, dengan ketulusan, dengan keistiqomahan dan keikhlasan) yang selalu menyirami hati-hati semuanya. Sekali lagi saya ingatkan, beliau orang terkaya diantara kita, kaya dengan aqidahnya, kaya dengan akhlaknya, kaya dengan ibadahnya, kaya dengan spiritualnya, kaya dengan ruhaniyahnya, kaya dengan moralnya. Begitu juga beliau kaya dengan fikrohnya, kaya idealismenya, kaya ideologinya, kaya wawasan berfikirnya dan kaya dengan daya juangnya serta kaya dengan pengorbanannya.
Kekayaan yang beliau tinggalkan inilah yang harus kita tumbuh kembangkan sebagai amanat dari beliau. Mudah-mudahan kita sebagai penerus yang baik seperti beliau ini.

Sebagai kesaksian terakhir, bahwa beliau dengan mengorbankan seluruh kepentingan dirinya, keluarganya, dunianya, seluruhnya dihibahkan untuk dakwah. Dan sudah tentu beliau adalah salah satu tonggak sejarah dalam penegakan da’wah ilallah menuju li i’la’i kalimatillah hiyal ‘ulya di Indonesia insya Allah.***
(disampaikan Ust. H. Hilmi Aminuddin, saat pemakaman jenazah Ustadz Rahmat Abdullah)

Rahmat Abdullah, Simbol Spiritualisme Dakwah Kita

oleh : Anis Matta, Lc.

Suatu hari, lebih dari 15 tahun lalu, lelaki itu datang dengan tenang. Jaket tentara rada lusuh yang ia kenakan membuatnya tampak gagah dan berwibawa. Tapi kelembutan tetap memancar kuat dari sorot matanya. Disana ada cinta. Disana ada cinta. Memanggil-manggil. Seperti sinar purnama yang memancar kuat menembus awan malam. Itulah pertama kali saya melihat guru saya, KH.Rahmat Abdullah, ketika beliau mengisi salah satu materi dalam sebuah dauroh di Puncak.

Saya masih mahasiswa saat itu. Pertemuan pertama itu menguatkan kesan yang telah terbentuk sebelumnya dalam benak saya tentang wajah seorang dai, seorang murobbi, seorang mujahid. Setidaknya pada biografi tokoh-tokoh pejuang Ikhwan di Mesir, atau Jamaat Islami di Pakistan, atau Masyumi di Indonesia. Ketika beliau berbicara lebih dalam mengenai fiqh dakwah, saya segera menyadari bahwa kedua kaki saya telah melangkah jauh kedalam kafilah dakwah yang selama ini hanya saya rasakan dalam bacaan. Walaupun sama-sama berada dalam kafilah dakwah ini, tapi bertahun-tahun kemudian saya belum pernah bertemu dengan beliau dalam satu tim kerja. Sampai akhirnya perjalanan dakwah ini menemukan hajat besar untuk membentuk partai politik. Berdirilah Partai Keadilan pada tahun 1998. Sejak itu hingga beliau wafat pada Selasa 14 Juni 2005 lalu, saya bertemu secara intensif dengan beliau di Lembaga Tinggi Partai.

Di antara pelajaran hidup yang saya peroleh dalam perjalanan dakwah ini adalah fakta bahwa wazan atau timbangan seseorang dalam hati kita, atau dalam komunitas kita, biasanya baru menjadi nyata dan jelas setelah orang itu pergi. Mungkin ini salah satu hikmah mengapa Islam melarang kita menyanjung orang hidup: karena kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupannya akan berujung. Setelah seseorang pergi, kita segera tahu "ruang kosong" apa yang ditinggalkan orang itu dalam hati kita, atau dalam komunitas kita. Kesadaran kita tentang ruang kosong itu tidak akan pernah begitu jelas selama orang itu masih hidup dan berada di antara kita, sejelas ketika orang itu akhirnya pergi. Ruang kosong yang dirasakan setiap orang pada seseorang tentu saja berbeda-beda. Tapi jika orang-orang itu berada dalam komunitas yang sama, maka ruang kosong yang kita rasakan secara kolektif biasanya selalu sama.

Kalau kita menelusuri ruang kosong yang ditinggalkan seorang tokoh, lalu kita mencoba menemukan "kunci kepribadian" tokoh itu, biasanya kita akan menemukan takdir sejarahnya secara lebih akurat. Kunci kepribadian adalah alat kecil yang membuka pintu bagi kita untuk menemukan penjelasan tentang makna dan korelasi dari setiap tindakan seseorang. Itu dua kata kunci: ruang kosong dan kunci kepribadian, yang mengantar kita untuk menemukan tempat dimana seorang tokoh bersemayam dalam sejarah. Jika belajar sejarah lebih dalam, kita akan menemukan satu fakta bahwa tokoh-tokoh memberikan porsi yang sangat besar dalam menjelaskan berbagai peristiwa besar dalam sejarah. Walaupun bukan merupakan seluruhnya, tapi Hasan Al Banna adalah penjelasan besar tentang fenomena Ikhwanul Muslimin di Mesir. Begitu juga Al Maududi adalah penjelasan besar tentang Jemaat Islami di Pakistan. Seperti juga Cokroaminoto, Soekarno, Agus Salim, Natsir, Tan Malaka, Aidit adalah penjelasan besar tentang Indonesia pada paruh pertama abad 20.

Tidak sulit bagi mereka yang pernah berinteraksi lama dengan Rahmat Abdullah untuk menyimpulkan bahwa beliau adalah simbol spiritualisme PKS. Spiritualisme adalah kata kunci menjelaskan dan merangkum sifat-sifat utama beliau: ikhlas, zuhud, wara’, tawadhu’, shidiq dan cinta. Tampak luar dari semua sifat itu adalah kelembutan. Dan itulah yang kita rasakan dalam setiap interaksi dengan beliau: selalu ada canda, selalu ada kehangatan, selalu ada kegembiraan, selalu ada cinta. Tapi semua terengkuh dalam nuansa spiritual yang kental. Jiwanya seperti ruang besar yang dapat menampung semua karakter. Karena itu anak-anak muda dengan berbagai karakter merasakan ketenangan batin saat bersama beliau: semacam limpahan kasih sayang yang tak pernah habis. Dalam halaqahnya berkumpul para intelektual, pengusaha, aktivis sosial dan lainnya. Dan yang unik, seorang murid beliau yang memiliki latar belakang kehidupan anak-anak tentara yang keras dan kasar mengatakan bahwa hanya karena kelembutan beliau saya bisa bergabung dengan dakwah ini. Mungkin itu sebabnya para kader lantas menjuluki beliau sebagai Syekh Tarbiyah.

Kita juga merasakan sentuhan spiritualitas yang kuat itu ketika beliau membacakan doa dalam demonstrasi-demonstrasi mendukung perjuangan saudara-saudara kita di Palestina, Irak, Afghanistan dan lainnya. Isi doa-doa beliau merefleksikan hati penuh makrifat pada Allah swt. Makrifat itulah yang menyentuh dan menundukkan hati kita pada Allah swt: tiba-tiba saja hiruk pikuk demo berubah menjadi majlis zikir yang khusyuk, dan teriakan-teriakan perlawanan berubah jadi tangis jiwa yang pilu bertawakkal.

Ketika sifat-sifat utama dibawa kedalam kerja-kerja dakwah yang bersifat struktural dalam kerangka amal jama’i, beliau selalu bisa bekerjasama dengan semua orang. Sifat-sifat utama itu mungkin tidak selalu kompatibel dengan jabatan-jabatan struktural yang memerlukan keterampilan manajerial dan tehnis. Tapi sifat-sifat itu efektif menyatukan orang-orang dengan potensi tehnis. Karena itu, mungkin prestasi terbaik beliau adalah ketika beliau menduduki posisi sebagai ketua bidang kaderisasi di DPP sebelum akhirnya menduduki posisi sebagai ketua MPP. Disana anak-anak muda dengan kemampuan tehnis dan manajerial yang bagus menjadi sebuah tim kaderisasi yang kompak dibawah bimbingan seorang syekh yang mengayomi dengan lembut, dan berhasil mentransformasi kerja-kerja tarbiyah kedalam kerangka institusi dengan landasan sistem yang kokoh. Warisan inilah yang merupakan salah satu penjelasan tentang lompatan besar dalam sistem dan kemampuan kerja tim kaderisasi PKS.

Rahmat Abdullah telah pergi merengkuh takdir sejarahnya justru ketika dakwah ini sedang memasuki babak baru dengan tantangan-tantangan baru. Menghabiskan seluruh usia produktifnya dalam perjuangan dakwah, Rahmat Abdullah telah meninggalkan ruang kosong yang besar: simbol spiritualisme dakwah kita yang selalu menghadirkan cinta dalam semua kerja dakwah. Para pencinta adalah pemilik ruh yang lembut. Rahmat Abdullah adalah ruh yang lembut: lembut seluruh hidupnya, lembut cara perginya.****

Rabu, 10 Maret 2010

Hidup Sederhana

Nafsu manusia kadang seperti air. Tak pernah henti untuk selalu mengalir. Selama masih ada celah, di situlah air mengalir. Bedanya dengan air yang mengalir ke tempat lebih rendah, nafsu terus mengalir ke arah sebaliknya.

Manusia bisa dibilang makhluk yang jarang cepat puas. Selalu saja ujung dari sebuah pencarian lagi-lagi bertemu pada satu titik: kurang. Keadaan itu persis seperti orang yang selalu mendongak ke atas. Dan lengah menatap ke bawah.
Itulah kenapa orang tanpa sadar kehilangan daya peka. Kepekaannya dengan lingkungan sekitar menjadi tumpul. Bahkan mungkin, di tengah hiruk pikuknya mengejar yang atas, tanpa terasa kalau yang di bawah terinjak-injak. Jadi, pisau kepekaan bukan sekadar tumpul, bahkan berkarat sama sekali.


Orang menjadi tidak mampu menyelami apa yang terjadi di sekelilingnya. Sulit merasakan kalau di saat kita terlelap dalam keadaan kenyang, sejumlah tetangga terus terjaga karena menahan perut yang lapar. Sulit menangkap keinginan anak-anak tetangga untuk tetap bersekolah, ketika sebagian kita tengah sibuk mencari sekolah top buat anak-anak, berapa pun mahalnya.
Ketidakpekaan itu akhirnya menggiring diri untuk tampil tak peduli. Kesederhanaan menjadi barang langka. Ada semangat tampil serba wah. Ada bahasa yang sedang diungkapkan, “Saya memang beda dengan kalian!”

Ketika terjadi proses melengkapi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan mungkin hal-hal lain seperti alat komunikasi; ada pergeseran yang nyaris tanpa terasa. Sebuah pergerseran dari nilai fungsi kepada nilai gengsi.

Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok itu tidak lagi menimbang sekadar fungsi, tapi lebih kepada gengsi. Ada sesuatu yang sedang dikejar dari proses pemenuhan itu: trend dan gengsi. Biasanya, nilai gengsi jauh lebih mahal dari nilai fungsi. Bahkan, bisa berkali-kali lipat.
Di sisi lain, ada semacam ketergantungan dengan penampilan mode yang tentu saja datang dari negeri pedagang budaya. Mereka begitu pintar mengemas barang dagangan dalam bentuk yang sangat menarik. Halus, tanpa kesan menggurui. Kemasan bisa melalui film, berita mode dan sebagainya. Tanpa sadar, orang sedang terhipnotis dalam cengkeraman para pedagang budaya. Repotnya, ketika pedagang budaya sebagian besar menuhankan hidup materialistis. Semua tanpa sadar menuhankan gengsi.

Mungkinkah perilaku konsumsi seperti itu hinggap dalam diri umat Islam? Masalahnya memang bukan sekadar muslim atau bukan. Tapi sejauhmana umat Islam memahami nilai budaya Islam. Dan membumikannya dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Mereka yang tidak paham dengan Islam biasanya memang tidak peduli dengan urusan orang lain. Walaupun itu satu keyakinan. Tidak ada ajaran yang menyentuh hati mereka untuk mau memperhatikan nasib saudaranya. Hidup bagi mereka adalah diri mereka sendiri. Tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Sementara Islam, sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Bahkan nilainya bisa sama dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak beriman seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)

Selain tumpulnya kepekaan dan kungkungan trend budaya orang lain, ada sebab lain yang membuat orang jauh dari sederhana. Itulah imperiority, atau merasa rendah di hadapan orang lain. Rasa rendah diri itu memompa segala daya yang dimiliki untuk tampil melebihi orang yang dianggap lebih. Paling tidak, ada kepuasan diri jika tampilan bisa dianggap lebih.
Penyakit seperti itu biasa hinggap di negeri-negeri jajahan. Mereka biasa hidup susah. Sementara para penjajah hidup mewah. Ketika kesempatan hidup mewah terbuka lebar, sifat rendah diri berubah menjadi jiwa eksploitasi. Apa pun yang bisa diraih, diambil sebanyak-banyaknya demi kepuasan tampil lebih.

Hal itulah yang diwaspadai Khalifah Umar bin Khaththab ketika mencermati para gubernurnya. Ia khawatir, di saat kesempatan terbuka lebar, para gubernur hilang kesadaran. Umar pernah menghukum Amru bin Ash, sang gubernur Mesir kala itu yang berbuat semena-mena terhadap seorang rakyatnya yang miskin.

Seorang gubernur yang bertugas di Hamash, Abdullah bin Qathin pernah dilucuti pakaiannya oleh Umar. Sang khalifah menyuruh menggantinya dengan baju gembala. Bukan itu saja, si gubernur diminta menjadi penggembala domba sebenarnya untuk beberapa saat. Hal itu dilakukan Umar karena sang gubernur membangun rumah mewah buat dirinya. “Aku tidak pernah menyuruhmu membangun rumah mewah!” ucap Umar begitu tegas.

Teladan lain pernah diperlihatkan sahabat Rasul yang bernama Mush’ab bin Umair. Pemuda kaya ini tiba-tiba berubah drastis ketika memeluk Islam. Ia yang dulu selalu tampil trendi, serba mewah, menjadi pemuda sederhana yang hampir seratus persen berbeda dengan sebelumnya. Bahkan Mush’ab rela meninggalkan segala kekayaannya demi menunaikan dakwah di Madinah.
Ada yang menarik dari seorang mantan duta besar Jerman untuk Al-Jazair. Beliau bernama Wilfred Hoffman. Setiapkali mengunjungi pesta kalangan diplomat atau pejabat negara, isterinya selalu menjadi pusat perhatian.

Pasalnya, di acara-acara bergengsi seperti itu, isterinya tidak pernah mengenakan busana dan perhiasan mewah. Sebuah kenyataan di luar kelaziman buat kalangan petinggi negara seperti Jerman. Bagaimana mungkin seorang duta besar negara kaya bisa tampil ala kadarnya. Padahal, para pejabat dari negara miskin saja bisa tampil gemerlap. Ada apa?

Ternyata, Hoffman dan isterinya memang sengaja seperti itu. Ia lebih memilih hidup sederhana, ketimbang tampil mewah. Justru, dengan tampilan seperti itulah, Hoffman dan isterinya lebih dianggap daripada dubes dan pejabat lain yang hadir.

Meraih segala kemampuan materi memang sulit. Tapi lebih sulit lagi mengendalikannya menjadi tampilan sederhana. Karena nafsu memang tidak pernah berhenti mengalir ke segala arah.

Penyimpangan Aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsna-’Asyariyyah”

Aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsa-’Asyariyyah” membawa beberapa penyimpangan. Penyimpangan-penyimpangan tersebut jelas disebutkan dalam referensi-referensi yang mereka miliki. Dalam artikel ini akan disebutkan beberapa penyimpangan aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsna-’Asyariyyah” (inhirafu manhaj “Imamiyyah Itsna Asyariyyah”) berdasarkan referensi mereka sendiri.

Minggu, 07 Maret 2010

"Cinta Rahmat Abdullah"

Oleh : Ir. Tifatul Sembiring

Selasa sore itu Ustadz Rahmat tersenyum penuh makna. Segar dan cerah terlukis jelas pada wajah beliau. Tidak ada keluh kesah. Tidak ada kesan lelah, tidak ada tanda-tanda maupun isyarat. Sesuai janji, beliau datang tepat waktu. Untuk berbincang bersama dalam majelis kita. Membincang tentang kebun¬-kebun kita –yang kerap kali menjadi istilah beliau dalam perumpamaan medan dak¬wah.

Jadi akh Tif, kata beliau suatu waktu, berdakwah itu mirip dengan pekerjaan seorang petani. Biji yang ditanam tidak cukup hanya dibenamkan ketanah lalu ditinggalkan. Kemudian kita berharap akan kembali pada suatu hari untuk memetik hasilnya. Mustahil itu! Mustahil itu, kata beliau. Tanaman itu harus disiram setiap hari, dijaga, dipelihara, dipagari, bahkan kalau tunas-tunasnya mulai tumbuh, kita harus menungguinya, sebab burung-burung juga berminat pada pucuk¬-pucuk segar itu.

Jadi para. mad'u (pengikut dakwah) kita harus di-ri'ayah (dirawat), ditumbuhkan, diarahkan, dinasehati sampai dia benar¬benar matang. Dijaga alur pembinaannya, ditanamkan motivasi-motivasi, dibangun keikhlasan mereka, didengarkan pendapat-¬pendapatnya, bahkan kita perlu sesekali bepergian dengannya. Agar kita me¬mahami betul watak kader dakwah kita sebenarnya.

Bagi orang yang cukup dekat, Ustadz Rahmat Abdullah memang punya bahasa dan perumpamaan-perumpamaan yang khas. Dalam berbahasa, kadang beliau memberi instruksi namun tidak tekesan memerintah. Kalau beliau menasehati tanpa menyinggung perasaan, dan kalau mengajar tanpa terkesan menggurui.

Beliau pernah menguraikan bagaimana mulianya peran seorang da'i (juru dakwah) dalam sebuah perumpamaan. Jadi, lanjut beliau, coba kita bayangkan sebuah pemandangan yang terdiri dari pegu¬nungan, sawah, kubangan kerbau. disana ada sungai yang mengalir serta sebatang pohon yang tumbuh dipinggirnya.

Lalu ada 4 makhluk lain yang melihat pemandangan yang sama, yaitu seekor kerbau, anak kecil, petani dan insinyur pertanian.

Sang kerbau tentu akan senang main dikubangan, berguling-guling dengan lumpur yang basah, setelah pugs kerbau akan terjun berenang di sungai. Sampai ditarik oleh pemiliknya untuk kembali ke kandang. Itulah naluri binatang, dia berbuat berdasarkan instingnya, karma memang tidak dibekali akal oleh Allah swt.

Lain lagi dengan seorang anak kecil. Ketika melihat ada pohon didekat sungai, dia panjat lalu dari dahan yang menjulur kearah sungai itu dia terjun ke air, bere¬nang-renang sejenak terus merapat ke pinggir.

Lalu memanjat pohon kembali, lantas terjun pula kembali, sampai ia bosan dan lelah. Anak-anak lebih berbuat dan me¬mandang sesuatu sebagai sarana bermain. Mereka terkadang tidak terlalu serius memikirkan hasil tanaman, cuaca, kapan panen dst.

Kalau pak Tani sudah lebih maju. Sudah mulai memikirkan sepetak sawahnya, mulai menghitung berapa kebutuhan makan keluarganya selama setahun. Bagaimana memupuk padi supaya hasilnya menjadi berlipat ganda. Yang penting keluarganya bisa makan dan kalau ada lebihnya tentu untuk membeli lank pauk serta kebutuhan-kebutuhan sekunder lainnnya.

Namun yang lebih besar manfaatnya, lanjut beliau, adalah seorang insinyur pertanian. Dia tidak saja berpikir tentang sepetak sawah, dia justru berpikir lebih lugs. Memikirkan seluruh petani didaerah itu, memberikan penyuluhan. Bagaimana supaya hasil panen berlipat ganda. Ba-gaimana membaca peta daerah pertanian, tanaman apa yang cocok bagi daerah setempat, dan lain-lain.

Nah, akh Tif kata beliau, dai itu man¬faatnya bagaikan seorang insinyur per¬tanian itu. Dia tidak saja bermanfaat bagi dirinya sendiri dan keluarganya, namun juga sangat berfaedah bagi keluarga¬keluarga petani dan masyarakat yang lain.

Dengan cara yang khas itu, beliau telah memotivasi puluh ribu dai, murid-murid beliau, maupun di tempat-tempat dimana beliau pernah berceramah atau mengisi seminar. Kemampuan beliau ini, bahkan sanggup memotivasi kader dakwah dari beragam profesi sehingga menjadi dai-dai yang handal dan tangguh.

Beliau tidak saja berkiprah di dalam negeri, namun sudah pernah merambah ke manca negara. Sehingga hujan tangis serta pesan-pesan singkatpun mengalir dari berbagai belahan dunia ketika mendengar khabar kewafatan beliau. Para mahasiswa yang pernah mendengar ceramah beliau, para diplomat, seniman, semua profesi sangatlah merasa kehilangan.

Apalagi jama'ah majelis Ahad pagi masjid Iqro' Pondok Gede, yang berlokasi tepat disamping rumah beliau. Dimana setiap pekan beliau mengisi pengajian dengan bahasan kitab Manhajul Islam yang ditulis oleh Abu Bakar Jabir Al¬-Jazaairi itu. Pendengarnya bukan saja dari kalangan warga setempat, namun juga berdatangan dari berbagai daerah lain. Ceramah beliau di televisi dan radio juga memiliki pendengar-pendengar yang setia.

Bagi saya pribadi beliau adalah guru cinta. Beliau tidak saja berteori dengan cinta, namun dalam kesehariannya me¬mang kata-kata beliau sangat lembut dan penuh kecintaan. Beliau kerap mengutip sya'ir-syair yang menyentuh hati. Kalimat¬kalimat yang diuntai mengalir begitu saja namun penuh makna yang dalam. Suatu saat beliau bacakan kutipan, bahwa AI¬Busyiri pernah berkata " wal hubbu ya'taridhu alladzaatu bil –alam" (dan cinta dapat menghilangkan segala rasa sakit).

Sehingga wafatnya beliau yang sangat tiba-tiba, kita semua merasa tersentak dan terhenyak. Prosesnya sangat halus dan lembut. Pada saat break rapat untuk menunaikan shalat maghrib, disaat ber¬wudhu' beliau merasa linglung. Kami dudukkan di sofa ruang tamu, beliaupun berbisik "seperti gempa". Beberapa orang mencoba memijit kepala beliau yang dari tadi terns dipegang dengan kedua ta¬ngannya. Setelah diberi minuet air putih hangat beliaupun bersandar dan berulang¬ulang mengucapkan kalimah "Laailaah ilia anta". Lalu beliau mendengkur dan pingsan. Segera saja kami larikan ke klinik terdekat. Ketika dibawa ke rumah sakit yang lebih besar, ditengah perjalanan, beliaupun dipanggil oleh Pemiliknya. Ternyata Allah lebih mencintai beliau, dan segera –insya Allah – memberikan gan¬jaran yang balk dan berlipat ganda bagi beliau. Kita kehilangan guru cinta, guru kelembutan dan guru kasih sayang yang entah kapan lagi bisa mendapatkan ustadz sekaliber beliau. Terakhir saya ingin ungkapkan bahwa, "Kita tidak berpisah ya ustadzuna, kita hanya sedang mem¬persiapkan pertemuan yang kekal". Insya Allah.

Kamis, 04 Maret 2010

Hubungan Antara Senior dan Junior

Dalam dua ayat 5 dan 6 surat al-Insyiroh, Allah subhanahu wa ta’ala menyebut kata al-‘usr (kesulitan) dua kali, dan dua-duanya dalam bentuk ma’rifat (menggunakan hamzah dan laam). Juga menyebut kata yusran (kemudahan) dua kali pula, dan kedua-duanya dalam bentuk nakirah (tidak menggunakan hamzah dan laam).

Para ulama tafsir mengatakan, hakikat al-‘usr dalam dua ayat itu adalah satu, sedangkan hakikat yusran adalah dua, sehingga ada riwayat menyatakan, “Betapapun ada kesulitan yang menimpa seseorang, niscaya setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan jalan keluar dan kemudahan darinya. Sebab, sesungguhnya satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Imam Al-Hakim berkata, riwayat ini adalah riwayat yang shahih dari perkataan Umar bin Al Khaththab dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma).

Jalan Taubat Sang Rocker

“Cinta yang tulus di dalam hatiku,
Telah bersemi karena-Mu
Hati yang suram
kini tiada lagi
Tlah bersinar karena-Mu
Semua yang ada pada-Mu
Membuat diriku
tiada berdaya
Hanyalah bagi-Mu
Hanyalah untuk-Mu
Seluruh hidup
dan cintaku…”

Masih terngiang lirik lagu Cinta Yang Tulus yang dinyanyikan Bangun Sugito alias Gito Rollies, yang popular di tahun 80an. Lagu yang pernah dipopularkan The Rollies itu memang liriknya terkesan religius. Namun kesan itu menjadi paradoks ketika tahu sisi gelap dari kehidupan si pelantun tembang tersebut. Penampilan Gito kala itu urakan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel menghiasi kejayaan The Rollies Band di era 1980-an. Bahkan lagu-lagu cadas meluncur dari suara seraknya. Segudang kedugalannya kerap dikupas dan menjadi langganan infotainment.

Sudah menjadi rahasia umum bila dunia selebritis di mana pun berada selalu dekat dan akrab dengan dunia gemerlap (dugem) yang kerap diselingi berbagai macam kesenangan sesaat seperti narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya. Tak terkecuali pria kelahiran Biak, 1 November 1947 ini.

“Tiap Jumat siang kami berangkat ke daerah Puncak Bogor untuk pesta miras dan narkoba,” Ungkap Gito dengan nada sesal.

Sebelum merasakan ke-Mahaan Allah dalam dirinya, Bangun Sugito hidup dalam serba kecukupan. Bergelimang kemewahan, bergiat dalam kehidupan malam, bertemankan jarum neraka. Begitulah hari demi hari yang dilalui seolah pakaian yang tak pernah lepas dari badannya.

Bahagiakah hidup seperti itu? Mendatangkan ketenangankah semua itu? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab, sebuah rasa yang belum pernah ada dan sebuah keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya semuanya hanya menghantarkannya ke alam risau, resah dan gelisah.

Klimaks terjadi kala ia merayakan ulangtahunnya yang ke-50 pada 1997. Di situ, Gito mengundang seluruh karibnya untuk berpesta alkohol dan obat sepuasnya.
Dalam kerisauan panjang, beriring desah dan keluh kesah, daerah Puncak Bogor –Puncak dikenal sebagai tempat rekreasi di daerah Jawa Barat– selalu menjadi tempat menumpahkan penat, mengubur kegundahan yang membuncah. Wal hasil bukan ketenangan yang didapat bahkan gelisah itu makin menjadi. Namun dari daerah inilah benih hidayah itu mulai mekar membesar. Puncak menjadi tempat bersejarah, tempat solusi menjawab segala kerisauan.

Saat itu hari Jumat siang. Pria dengan rambut awut-awutan ini masih memegang botol miras, duduk di tempat yang tinggi sambil sesekali memandang ke arah bawah. Pandangannya tertuju kepada beberapa warga desa yang ramai menuju mesjid, hatinyapun bergetar, kerisauanpun kembali mengusik hati.

“Mereka dengan kesahajaan bisa menemukan kebahagiaan. Apakah di Masjid ada kebahagiaan?!” Pertanyaan itu selalu mengusik Gito.

Sungguh pemandangan indah di hari Jumat itu, memberi arti tersendiri bagi kehidupan Gito Rollies. Sulit dibedakan keterusikan karena sekedar ingin tahu atau ini adalah awal Allah membukakan hatinya bagi pintu tobat.

Dicobanya untuk mendekati Masjid itu, subhanallah, seperti ada magnit yang memendekkan langkahnya untuk tiba. Mungkin di sana ada kebahagiaan. Terlihatlah sebuah pemandangan yang meluluhlantakan kegelisahannya selama ini.

“Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh kekaguman. Dan entah kenapa, aku seperti mendapatkan ketenangan melihat orang-orang ruku, sujud dalam kekhusuan,”

“Bukankah apa yang kulakukan selama ini untuk mendapatkan ketenangan, tapi kenapa tidak? Ya, aku telah bergelut dengan kesalahan dan tetek bengeknya yang semuanya adalah dosa. Benarkah Allah tidak akan mengampuni dosaku? Lantas buat apa aku hidup jika jelas-jelas bergelimang dalam ketidakbahagiaan.” Pikiran itu terus bergelayut seakan haus jawaban.

“Malam itu aku benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Aku gelisah sekali. Ya, ternyata aku yang selama ini urakan, permisive ternyata masih takut dengan dosa dan neraka. Berhari-hari aku mengalami kegelisahan yang luar biasa. Hingga suatu malam, di saat kegelisahanku mencapai “puncaknya”, aku memutuskan untuk memulai hidup baru.
“Selama hidupku, baru kali ini aku diliputi suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan semenjak mulai memasuki dunia selebritis. Maka, aku pun segera berwudlu dan melakukan shalat. Ketika itu, untuk pertama kalinya pula aku merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Dan sejak hari itu, aku memutuskan untuk tekun memperdalam agama sekalipun masih banyak sekali tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan kepadaku atau pun beragam ejekan dari sebagian orang. Aku pun melaksanakan haji seraya berdiri dan menangis di hadapan ka’bah memohon kepada Allah kiranya mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan pada hari-hari hitamku.”

Ketika mentari terbit, Gito langsung mengajak istrinya untuk pergi ke Bandung, menjenguk sang ibunda. Di sana, ia mengutarakan niatnya untuk tobat yang disambut tangis haru sang ibu. Sejak saat itu, Gito resmi meninggalkan dunia kelam.
Satu yang disyukuri Gito adalah, dukungan dan kesabaran sang istri, Michelle, yang tak pantang habis.

“Saat aku sudah belajar agama, aku tidak berupaya menyuruhnya shalat. Ia tiba-tiba belajar shalat sendiri, begitu juga anak-anak. Suatu hari, ketika aku pulang, tiba-tiba aku mendapatinya tengah mematut diri di depan kaca sambil mengenakan jilbab. Padahal aku tidak pernah menyuruhnya. Subhanallah, istriku memang yang terbaik yang pernah diberikan Allah,” kata ayah dari empat putra ini.

Tobatnya Gito juga disyukuri oleh sang mertua, warga negara Belanda yang berimigrasi ke Kanada. Meski berbeda keyakinan, ibu mertuanya justru senang dengan perubahan yang dialami Gito.

“Kata beliau, aku jadi lebih kalem ketimbang dulu, meski sekarang pakai jenggot segala. Bahkan aku jadi menantu favoritnya lho,” tuturnya sambil terkekeh.

“Mengapa Allah memberikan hidayah kepada diriku yang kerdil ini? Mengapa Allah menciptakan makhluk yang penuh dosa ini?”

Gito mengaku harus merenung lama untuk menemukan jawaban itu. Setelah dia menjalankan shalat dan menunaikan haji, jawaban itu baru mampir di benak dan pikirannya. “Ternyata, Allah menciptakanku untuk menjadi manusia baik. Semula mengikuti idolaku, Mick Jagger. Aku menjadi penyanyi dan rekaman lalu mendapat honor. Tapi itu bukan kebahagiaan sepenuhnya buatku.”

“Mick Jagger itu dulu menjadi idolaku. Ikut mabok, main cewek, dan seabrek dunia kelam lain. Tapi sekarang aku mengidolakan Nabi. Dan sekarang, aku menemukan nikmat yang tiada tara.”

Kalimat itu meluncur dengan lugas dari Gito Rollies, artis ndugal yang kini memilih ke pintu pertobatan. Penampilan Gito tak lagi urakan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel. Bukan pula pelantun lagu-lagu cadas yang berjingkrak-jingkrak tidak keruan.

“Aku sudah mendapatkan banyak hal di dunia ini. Sekarang saatnya mengumpulkan amal untuk persiapan menghadapi hari akhir ,” katanya ketika memberi testimoni tentang perubahan dalam hidupnya.

Artis kelahiran Biak, Papua, 1 November 1947 dengan nama bangun Sugito ini awalnya dikenal sebagai rocker. Dalam perjalanan karirnya, ia juga dikenal sebagai aktor dan terakhir dalam kondisi sakit ia menjadi penceramah agama.

Nama Gito terlihat diambil dari nama aslinya, sementara nama Rollies diambil dari nama grup band asal Bandung, The Rollies yang pernah terkenal pada dekade 1960-an hingga 1980-an. Grup ini terdiri dari vokalis Gito, Uce F Tekol, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa, Teungku Zulian Iskandar.

Setelah bersolo karir, dia menelorkan sejumlah album solo, yakni Tuan Musik (1986), Permata Hitam/Sesuap Nasi (1987), Aku tetap Aku (1987), Air Api (1987) dan Tragedi Buah Apel (1987) dan Goyah (1987).

Sebagai aktor Gito memulai debutnya di dunia film lewat Buah Bibir (1973) sebagai figuran. Setelah benar-benar menjadi aktor ia bermain dalam Perempuan Tanpa Dosa (1978), Di Ujung Malam (1979) dan Sepasang Merpati (1979), dan Permainan Bulan Desember (1980), dan Kereta Api Terkahir (…). Namun kekuatan aktingnya terlihat pada Janji Joni yang mengantarkannya meraih piala Citra untuk kategori Aktor Pembatu Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia tahun 2005.

Kang Gito, begitu sapaan akrabnya, memang bukan lagi Gito Rollies yang lama. Sejak 10 tahun belakangan, hidupnya berubah 180 derajat. Kini, ia lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, mantan personel band The Rollies ini tak segan-segan menyerukan semua orang untuk meninggalkan kehidupan yang dipenuhi alkohol dan obat-obatan terlarang.

“Dalam hidup ini -apa pun agamanya- adalah paling baik mengikuti ajaran agama.
Karena inilah yang akan membentengi kita -terutama anak-anak- dalam menjalani cobaan hidup,” lanjut ayah tiga anak dari perkawinan dengan Michelle: Puja, Bayu dan Bintang.

Toh, meski sudah berada di jalan Allah, Gito tak pernah merasa dirinya yang paling benar. Ia selalu menolak jika disebut kyai, atau diminta untuk berceramah. Menurutnya, ia hanyalah orang yang masih terus belajar agama. Apapun yang diucapkannya di depan umum adalah upayanya berbagi cerita.

Bahkan, Gito masih merasa belum cukup bertobat hingga akhir hayatnya. Tak pernah sekalipun ia merasa dosa-dosanya telah terhapuskan. Dalam suatu pengajian ia sempat bertanya kepada ustadz yang berceramah, apakah dosa-dosanya di masa lalu bisa berkurang dengan perbuatannya saat ini.

“Tak hanya berkurang, namun dosa Kang Gito bahkan sudah dianggap lunas. Kang Gito jangan berpikir perbuatan baik saat ini untuk bayar dosa yang lalu. Sekarang Kang Gito tengah menabung untuk masa depan,” jawab sang ustadz, yang disambut Gito dengan wajah sumringah.

Sejak 1990-an nama Gito hilang dari peredaran setelah dia menarik diri dari dunia panggung musik rock maupun film. Khalayak pun tidak lagi menyaksikan aksi-aksi penyanyi bersuara serak dengan gaya panggungnya yang atraktif. Beberapa tahun kemudian Gito muncul menjadi seorang dai, yang kerap tampil dengan pakaian putih-putih.

Sejak 2005 Gito harus terbaring lemah. Ia tak berdaya melawan kanker kelenjar getah bening yang dideritanya. Namun kemudian ia justru terlihat banyak melakukan kegiatan dakwah. Bahkan sebelum meninggal Gito masih sempat berdakwah di Padang, Sumatera Barat selama 11 hari.

Tahun-tahun belakangan memang terasa berat buat Michelle Sugito wanita asal Kanada yang telah mendampingi hidupnya selama ini. Ia harus mendampingi suaminya menjalani terapi pengobatan kanker kelanjar getah bening yang dirasakan penyanyi rock ini, dua tahun terakhir.

Sosok Bangun Sugito yang atletis dan enerjik di panggung sudah menjadi bagian masa lalu. Untuk berjalan pun kini ia harus dibantu atau minimal menggunakan tongkat. Kadang ia memang menolak untuk dibantu. “Maunya sih tidak dibantu. Tetapi karena aku selalu bicara bahwa manusia harus saling membantu, ya aku juga harus mau dibantu orang lain,” kata Gito.

Karena itulah ia juga tidak menolak ketika diminta ikut dalam acara penggalangan dana buat korban gempa bumi Yogyakarta yang digagas orang tua murid tempat isterinya bertugas. Gito menganggap saat ini sudah saatnya ia bernyanyi untuk berdakwah, sesuatu yang ia harapkan ada manfaatnya buat para pendengarnya.
Sebab itu pulalah ia lebih memilih menyanyikan lagu-lagu bernuansa religius ketimbang lagu-lagu nunasa masa lalu seperti,“Astuti…Tuti..Tuti…”

Bersamaan dengan sumbangan yang mengalir dari undangan, air mata Michelle Sugito makin deras mengalir.

Ya, Gito Rollies memang pribadi yang penuh kenangan. Kehidupannya tersimpul dalam satu kalimat ‘Mantan lalim, yang jadi orang alim’. Masa mudanya memang sangat dekat dengan miras, narkoba dan hura-hura. Selama kurang lebih 23 tahun tidak menyurutkan niat rocker gaek bernama lengkap Bangun Sugito ini untuk tobat dan mendalami agama.

Dialah satu-satunya Rocker yang meninggal dengan tenang, indah dan tersenyum. Happy Ending. Seandainya Sid Vicious meninggal dengan tenang di St Paul’s Cathedral, Kurt Cobain dan Jimmy Hendrix meninggal mesra di St James Cathedral maka sepertinya tidak akan ada stigma: Rocker mati konyol dengan mulut berbusa atau berlumuran darah karena bertingkah bodoh akibat pengaruh narkoba. Dan mitos “Rocker Legend mati muda” pun sudah mulai usang karena Legend kita yang satu ini tutup usia di umur 61 tahun.

Gito menigggalkan seorang isteri bernama Michelle dan lima anak, yakni Galih Permadi, Bintang Ramadhan, Bayu Wirokarma, dan Puja Antar Bangsa.
Sebaik-baik usia tiap orang adalah pada penghujungnya. Dan ketahuilah, bagi kita, ujung-ujung usia akan selamanya menjadi misteri, karena seringkali di sanalah Allah memberikan kesudahan yang indah dari perjalanan taubat hamba-Nya.
Ila Robbika Muntahaha. Innama Anta Mundziru Man Yaghsyaha